Perubahan dunia kerja yang semakin cepat membuat tekanan dalam pekerjaan juga terasa semakin kompleks. Tuntutan untuk terus produktif, mengejar target, menyelesaikan berbagai masalah, hingga menjaga relasi kerja sehari-hari dapat menguras energi secara fisik maupun mental.
Tidak sedikit pekerja yang menganggap rasa lelah berkepanjangan atau mulai kehilangan motivasi terkait pekerjaan sebagai hal yang normal. Padahal, kondisi tersebut dapat menjadi tanda burnout yang perlahan akan memengaruhi kesejahteraan maupun performa kerja sehari-hari. Melalui artikel ini, kita akan membahas lebih lanjut mengenai burnout, mulai dari tanda-tanda yang perlu dikenali hingga langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.

Definisi Burnout
Burnout dalam konteks dunia kerja merupakan kondisi kelelahan psikologis yang muncul akibat stres kerja berkepanjangan yang tidak tertangani dengan baik. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan rasa lelah setelah bekerja, tetapi juga melibatkan tekanan emosional yang terus menumpuk hingga memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan menjalani pekerjaannya sehari-hari. Seorang karyawan yang mengalami burnout umumnya mulai merasa energinya terkuras, kehilangan motivasi kerja, dan merasa pekerjaannya semakin berat untuk dijalani.
Burnout biasanya tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi berkembang perlahan seiring waktu. Awalnya seseorang mungkin hanya merasa lebih lelah dari biasanya atau kesulitan menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Namun, ketika tekanan terus berlangsung, karyawan dapat mulai kehilangan antusiasme terhadap pekerjaannya hingga tidak lagi menemukan makna dari pekerjaan yang dijalani. Jika dibiarkan terus-menerus, kondisi ini dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis maupun kualitas hidup secara keseluruhan.
Faktor Penyebabnya
Penelitian menemukan bahwa burnout dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam diri individu maupun lingkungan kerja. Salah satu kondisi yang paling sering ditemukan adalah adanya ketidaksesuaian antara kebutuhan individu dengan tuntutan atau kondisi pekerjaan yang dijalani. Berikut beberapa faktor yang umumnya berkaitan dengan burnout di tempat kerja.
-
Beban Kerja yang Berlebihan
Burnout sering kali berkaitan dengan tuntutan kerja yang terus meningkat tanpa diimbangi waktu istirahat yang memadai. Volume pekerjaan yang tinggi, target yang ketat, ritme kerja yang cepat, hingga tekanan untuk selalu responsif dapat membuat energi seseorang terkuras secara perlahan. Jika kondisi ini berlangsung terus menerus, pekerja dapat mulai merasa kelelahan secara fisik maupun emosional yang berujung pada burnout.
-
Ketidakjelasan Peran dan Tujuan Kerja
Sebagian orang mengalami burnout karena merasa bingung terhadap ekspektasi maupun tujuan pekerjaannya. Misalnya, peran kerja yang saling tumpang tindih, target yang terus berubah, atau arahan yang tidak konsisten dari atasan. Kondisi seperti ini dapat membuat karyawan terus merasa harus menyesuaikan diri tanpa benar-benar memahami standar yang diharapkan. Dalam jangka panjang, pekerjaan dapat terasa melelahkan karena karyawan terus bekerja dalam ketidakpastian.
-
Kurangnya Kontrol dalam Pekerjaan
Burnout juga lebih rentan muncul ketika karyawan merasa tidak memiliki kendali terhadap pekerjaannya sendiri. Misalnya, ruang untuk menyampaikan pendapat sangat terbatas, sementara cara kerja diatur terlalu kaku tanpa mempertimbangkan kebutuhan di lapangan. Dalam kondisi seperti ini, pekerjaan dapat terasa menekan karena individu terus dituntut memenuhi ekspektasi tanpa memiliki cukup ruang untuk mengatur bagaimana pekerjaan tersebut dijalankan.
-
Lingkungan Kerja yang Tidak Mendukung
Risiko burnout cenderung meningkat ketika karyawan merasa tidak memperoleh dukungan yang cukup dalam bekerja. Misalnya, atasan jarang memberikan umpan balik yang membangun atau lingkungan kerja dipenuhi budaya saling menyalahkan antaranggota tim. Ketika suasana kerja lebih banyak menghadirkan tekanan dibanding rasa aman dan dukungan, pekerjaan perlahan terasa melelahkan secara emosional dan menjadi sumber stres yang sulit dihindari setiap hari.
Ciri-cirinya?
Burnout sering kali sulit dikenali karena pada awalnya terlihat seperti rasa lelah biasa akibat pekerjaan sehari-hari. Namun, kelelahan bukan satu-satunya ciri burnout. Beberapa ciri-ciri yang umum ditemukan pada karyawan antara lain sebagai berikut:
-
Kelelahan Berkepanjangan
Merasa lelah setelah bekerja merupakan hal yang wajar, terutama setelah menjalani hari yang padat atau penuh tekanan. Namun pada burnout, rasa lelah tersebut tidak benar-benar membaik meskipun seseorang sudah tidur cukup. Karyawan dapat bangun dengan perasaan tetap berat dan tidak memiliki energi untuk kembali menjalani rutinitas kerja. Lama-kelamaan, tubuh dan pikiran terasa seperti terus bekerja tanpa kesempatan untuk benar-benar pulih.
-
Kehilangan Motivasi dan Antusiasme dalam Bekerja
Burnout juga dapat membuat seseorang perlahan kehilangan semangat terhadap pekerjaannya. Aktivitas yang sebelumnya terasa menarik mulai dijalani sekadar untuk memenuhi kewajiban, tanpa antusiasme seperti sebelumnya. Tidak sedikit karyawan yang akhirnya merasa pekerjaannya berjalan monoton dan sulit menemukan dorongan untuk terlibat secara penuh dalam pekerjaan sehari-hari.
-
Sikap Lebih Negatif terhadap Pekerjaan
Ketika burnout berlangsung cukup lama, cara seseorang memandang pekerjaan juga dapat berubah. Karyawan menjadi lebih mudah frustrasi, sensitif, atau merasa tidak peduli terhadap pekerjaan maupun lingkungan kerja di sekitarnya. Dalam beberapa kasus, individu mulai menjaga jarak secara emosional sebagai cara untuk bertahan dari tekanan yang terus dirasakan.
-
Penurunan Performa Kerja
Burnout dapat membuat performa kerja seseorang menurun secara perlahan, termasuk pada karyawan yang sebelumnya dikenal produktif atau terbiasa bekerja dengan standar tinggi. Target yang biasanya dapat dicapai mulai terasa lebih sulit dikejar, fokus kerja menjadi mudah buyar, dan pekerjaan sederhana dapat memerlukan waktu lebih lama untuk diselesaikan.
Cara Mengatasinya?
Mengatasi burnout tidak selalu cukup hanya dengan beristirahat atau mengambil cuti. Dalam banyak kasus, burnout berkaitan dengan tekanan kerja yang berlangsung terus-menerus sehingga perlu ditangani secara lebih menyeluruh, baik dari sisi individu maupun lingkungan kerja. Beberapa langkah yang dapat dilakukan misalnya mulai mengatur batas kerja yang lebih sehat, mengurangi kebiasaan lembur berlebihan, memberi ruang untuk mengambil jeda dari pekerjaan, serta kembali menyeimbangkan pekerjaan dengan aspek kehidupan lainnya di luar pekerjaan. Secara sistematis, organisasi dapat berinvestasi pada dukungan psikologis untuk karyawan melalui Employee Assistance Program. Baca lebih lanjut dalam artikel Employee Assistance Program: Pengertian, Manfaat, dan Cara Mendapatkan Layanan Kesehatan Mental untuk Organisasi.
Namun, ketika hal ini mulai berlangsung berkepanjangan dan memengaruhi kondisi emosional maupun kehidupan sehari-hari, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah yang penting. Melalui konseling psikologis, pekerja dapat dibantu untuk memahami sumber stres yang dialami dan mempelajari strategi mengatasi stres yang lebih sesuai dengan kebutuhannya. Jika Anda atau orang terdekat Anda membutuhkan bantuan terkait burnout karena tekanan kerja, LPTUI menyediakan layanan konseling psikologis bersama psikolog profesional sesuai bidang keahliannya. Jadwalkan sesi konseling melalui form pendaftaran atau hubungi WhatsApp kami untuk mendapatkan informasi selengkapnya.
Referensi:
Calitz, K. (2022). Burnout in the workplace. Obiter, 43(2), 320-348.
Demerouti, E. (2024). Burnout: a comprehensive review. Zeitschrift für Arbeitswissenschaft, 78(4), 492-504.
Nápoles, J. (2022). Burnout: A review of the literature. Update: Applications of Research in Music Education, 40(2), 19-26.
