Masih Mencari Validasi dari Atasan Toxic? Waspadai Trauma Bonding di Tempat Kerja

Ketika bekerja, sudah sewajarnya kita meminta persetujuan dan validasi dari atasan terkait dengan hasil kerja kita. Selain untuk mengetahui apakah pekerjaan kita sudah benar, kita juga bisa mendapatkan kepuasan tersendiri ketika mendapatkan validasi maupun komentar positif dari atasan. Namun, validasi apa yang terus-menerus kita cari? 

Coba bayangkan situasi berikut. Suatu hari, atasanmu memujimu di hadapan klien maupun kolega lainnya. Namun pada waktu lain, imeremehkan idemu, bahkan merendahkanmu secara personal. Pada suatu kesempatan, atasanmu memberikan proyek yang bergengsi, tetapi merendahkan dirimu di kemudian hari. Setiap hari, kamu menjadi menebak-nebak sikap seperti apa yang akan diberikan oleh atasanmu.  

Namun, alih-alih menjaga batasan, ketidakpastian itu justru membuatmu berusaha keras untuk mendapatkan validasi darinya. Kamu bekerja melebihi kapasitas dan porsimu hanya untuk sebuah komentar positif dari darinya.  

Jika situasi ini terasa familiar, kamu perlu mengenali konsep trauma bonding di tempat kerja. 

Artikel ini membahas apa itu trauma bonding di lingkungan profesional, faktor terbangunnya trauma bonding, tanda-tanda yang perlu diwaspadai, dampak jangka panjang, hingga upaya awal untuk memutusnya. Pastikan  untuk  menyimak artikel ini sampai akhir ya! 

Mengenal Trauma Bonding 

Trauma bonding adalah istilah yang dipopulerkan oleh Dutton & Painter (1981) yang merujuk pada keterikatan emosional yang kuat dari individu terhadap individu lain yang justru menjadi sumber traumanya. Konsep ini sering kali dibahas dalam konteks hubungan  romantis, seperti keterikatan korban terhadap pasangannya yang sering melakukan kekerasan (Effiong et al., 2022) 

Trauma bonding umumnya terbentuk dalam hubungan di mana pelaku berulang kali mengirimkan sinyal bahaya dan sinyal aman secara tidak konsisten (Effiong et al., 2022). Pola yang tidak dapat diprediksi ini akhirnya membuat korban menjadi waspada berlebihan dan sangat terpaku pada setiap perubahan sinyal. Akibatnya, korban tidak hanya menumbuhkan kecemasan terhadap ancaman yang mungkin datang, tapi juga keterikatan terhadap momen-momen positif yang sesekali diberikan.  

 Baca Juga: Toxic Relationship: Pengertian, Ciri-ciri, dan Cara Mengatasinya 

Trauma Bonding di Lingkungan Profesional 

Fenomena trauma bonding rupanya tidak terbatas pada hubungan romantis maupun personal saja. Di lingkungan profesional, ikatan ini dapat tersebut dalam relasi antara atasan dan bawahan yang secara struktural sudah mengandung ketimpangan kekuasaan.  

Dalam hubungan kerja yang sehat, atasan adalah figur yang memberikan arahan, umpan balik konstruktif, hingga ruang aman bagi karyawan untuk berkembang. Namun dalam hubungan yang toxic, atasan dapat  menjadi sumber kecemasan melalui perilaku  yang kadang positif, kadang juga negatif tanpa pola yang jelas.  

Sebagai akibatnya, karyawan terus-menerus mengejar validasi dan penerimaan dari atasan. Bukan karena semangat profesional, melainkan karena kebutuhannya untuk merasa aman.  

Di Balik Trauma Bonding 

Trauma bonding tidak terbentuk secara tiba-tiba, tetapi melalui proses yang berkelanjutan dan faktor yang menguatkannya. Untuk memahami bagaimana trauma bonding dapat terbentuk dalam relasi kerja, penting untuk melihat dua hal secara bersamaan: faktor-faktor yang menciptakan kondisi rentan, serta siklus yang terus-menerus memperbarui dan mempererat ikatan tersebut. 

Faktor Utama Pembentuk Trauma Bonding 

Trauma bonding umumnya terbentuk dalam suatu siklus dengan tiga faktor utama, yaitu ketimpangan kekuasaan, intermittent reinforcement, dan kondisi terkekang (Leisak & Gelshorpe, 2025) 

  1. Ketimpangan kekuasan (power imbalancemerupakan hal yang umum terjadi di tempat kerja. Tentunya, atasan memiliki kuasa lebih atas bawahannya. Namun sayangnya, kekuasaan yang dimiliki sering kali disalahgunakan melalui pemberian ancaman, favoritisme, hingga penilaian yang tidak transparan. Akibatnya, karyawan sebagai bawahan berada dalam posisi rentan yang mendorongnya untuk terus mencari persetujuan dari atasannya.  
  2. Penguatan intermiten (intermittent reincorfement) mengacu pada penguatan perilaku yang tidak konsisten. Atasan dapat memberikan pujian atau perilaku hangat pada satu waktu dan memberikan makian atau perilaku negatif pada waktu lainnya. Pola yang tidak konsisten ini akhirnya menciptakan keterikatan yang lebih kuat pada karyawan karena ia terus berusaha “mendapatkan kembali” respons positif yang pernah dirasakan. 
  3. Kondisi terkekang (captivitydi tempat kerja biasanya berbentuk ketergantungan ekonomi, kontrak yang mengikat, minimnya peluang kerja di luar, atau rasa takut kehilangan status maupun jaringan profesional yang telah dibangun. Kondisi ini membuat karyawan merasa tidak memiliki pilihan untuk keluar dan, akhirnya, memutuskan untuk bertahan dengan mencari rasa aman tersebut. 

Siklus Terbentuknya Trauma Bonding 

Trauma bonding juga terbentuk melalui serangkaian fase yang berulang dan saling terkait satu sama lain (Arabi, 2025). Oleh karena itu, proses munculnya trauma bonding dapat disebutkan merupakan sebuah siklus.  

trauma bonding

1. Idealisasi (Idealization) 

Fase idealisasi merupakan fase di mana atasan menampilkan dirinya sebagai figur yang sangat mengayomi. Ia memuji karyawannya secara terbuka, membangga-banggakannya, dan mempercayakannya  dengan tugas menantang sehingga karyawannya merasa “dipilih” secara khusus. Fase ini menciptakan standar emosional yang tinggi sehingga karyawan merasa ia memiliki “atasan terbaik”. 

2. Disonansi Kognitif (Cognitive Disonance) 

Seiring berjalannya waktu, perilaku atasan dapat berubah. Fase ini diawali dengan munculnya kritik yang tidak membangun, komentar merendahkan, pengabaian, ataupun sikap tidak konsisten. Pada fase ini, karyawan pun mengalami disonansi kognitif, yaitu konflik antara gambaran atasan yang ia bangun dari fase idealisasi dengan kenyataan yang kini ia hadapi.  

3. Penguatan Intermiten (Intermittent Reinforcement) 

Fase ini merupakan inti dari kekuatan trauma bonding karena pada fase ini, atasan dapat memberikan pujian dan juga makian secara tidak konsisten. Pola ini nantinya dapat menimbulkan keinginan karyawan untuk terus mendapatkan pujian dan validasi dari atasan serta menghindari makian dan pengabaian. Untuk mencapai hal itu, karyawan pun berusaha untuk bekerja lebih dari porsinya hingga mempertaruhkan dirinya sendiri.  

 4. Devaluasi (Devaluation

Pada fase ini, perilakuan buruk dari atasan mulai mendominasi. Kritik menjadi tidak konstruktif, pengabaian mulai sering terjadi, bahkan penghinaan lebih sering diberikan daripada pujian. Namun akibat disonansi kognitif yang sebelumnya terjadi, karyawan menjadi percaya bahwa makian yang ia dapatkan merupakan cerminan nilai dirinya. Kepercayaan dirinya pun secara perlahan akan terkikis sehingga kebutuhannya terhadap validasi atasan menjadi semakin kuat.  

5. Adaptasi Maladaptif (Maladaptive Adaptation/Learned Helplessness) 

Fase ini merupakan titik di mana karyawan percaya dirinya perlu beradaptasi dengan keadaan, tetapi dengan cara yang tidak tepat. Ia malah mendiskreditkan kebutuhan psikologisnya, menormalisasi perlakuan atasan yang tidak wajar, dan secara aktif mengantisipasi suasana hati atasan setiap hari. Adaptasi ini terasa seperti solusi, tetapi nyatanya semakin menguatkan trauma bond yang telah  terbangun.  

Fase-fase ini akan terus berjalan dalam suatu siklus. Karyawan yang telah beradaptasi secara maladaptif dapat kembali ke fase idealisasi: membesar-besarkan satu komentar positif yang diberikan oleh atasan di antara puluhan komentar negatif. Dari sana, fase pun terulang kembali.  

Tanda Kamu Mengalami Trauma Bonding di Tempat Kerja 

Fase-fase dan faktor-faktor yang menjadi dasar pembentukan trauma bonding dapat terjadi secara perlahan sehingga karyawan  tidak menyadari bahwa dirinya terjerat dalam ikatan ini. Apabila kamu juga tidak menyadarinya, perhatikan tanda-tanda berikut ini: 

  1. Rasa tidak percaya diri. Kamu merasa bahwa pekerjaanmu tidak pernah bagus dan kamu mulai meragukan kapabilitasmu sendiri. 
  2. Mendapatkan manipulasi. Kamu percaya apabila kamu bekerja lebih keras, seperti bekerja di luar jam kerja dan tanggung jawabmu, kamu bisa menjadi lebih baik.  
  3. Mencari validasi berlebihan. Kamu terus merasa gelisah setelah menyelesaikan tugas dan selalu menunggu adanya respons positif, bahkan di luar jam kerja.
  4. Merasa bergantung dengan pekerjaan. Kamu mulai meyakini bahwa tanpa atasanmu dan pekerjaanmu, kamu tidak memiliki nilai apa-apa sehingga kamu tidak bisa lepas darinya.  

Ada banyak lagi tanda-tanda yang perlu kamu perhatikan, tetapi poin pentingnya adalah untuk melihat apakah hal ini memengaruhi kesejahteraan psikologismu atau tidak. Selain itu, tanda-tandanya tidak selalu muncul sekaligus, tetapi jika dibiarkan terus-menerus, dampaknya dapat terakumulasi dan meninggalkan luka yang jauh lebih dalam dari sekadar pengalaman kerja yang buruk.  

Dampak Jangka Panjang dari Trauma Bonding 

Apabila kamu membiarkan siklus trauma bonding ini berjalan dan, bahkan, menguatkan keterikatanmu dengan atasanmu yang toxic, kamu bisa mengalami dampak yang lebih dalam dan lebih panjang. Berikut ini merupakan dampak jangka panjang yang perlu kamu perhatikan.  

  1. Rasa malu dan bersalah yang intens. Ketika kamu terlalu terikat dengan atasamu yang toxic, kamu dapat berisiko untuk terus merasa malu dan bersalah atas kesalahan yang sebenarnya tidak kamu lakukan.  
  2. Rasa takut terhadap penolakan dan pengabaian. Penolakan dan pengabaian dari atasanmu sudah menjadi sinyal tidak aman yang kemudian akan tersimpan dalam memorimu. Akibatnya, setiap penolakan maupun pengabaian menimbulkan ketakutan yang luar biasa pada dirimu.  
  3. Mati rasa emosional. Selain emosi-emosi yang intens, trauma bond yang sangat kuat juga dapat membuatmu mati rasa. Kamu mengalami kesulitan untuk membedakan emosi marah, sedih, takut, dan kecewa sehingga kamu juga tidak dapat menentukan cara melampiaskan emosimu.  
  4. Gangguan psikologis. Pada taraf tertentu, trauma bonding dapat memengaruhimu secara psikologis. Luka mendalam yang ditinggalkan tidak hanya memengaruhi relasimu dengan atasan, tetapi juga dengan orang-orang di sekitarmu, bahkan dengan dirimu sendiri.  
  5. Gangguan fisiologis. Akibat dari stres yang berkepanjangan, emosi yang intens tetapi tidak dapat disalurkan, hingga kondisi psikologis yang terganggu, perlahan kamu juga dapat merasakan ketidaknyamanan fisik, seperti susah tidur, sering mengalami sakit kepala, hingga permasalahan pencernaan.  

Dampak ini tentunya bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Apabila kamu telah merasakan sebagian dari dampak yang ada, kamu perlu mulai memutus trauma bond tersebut.  

Langkah Awal Memutus Trauma Bonding 

Proses untuk keluar dari siklus trauma bonding tentu tidaklah mudah. Akan tetapi, kamu perlu mengawalinya dari sekarang. Kamu bisa melakukan hal berikut ini untuk memutus trauma bond yang kamu miliki dengan atasanmu di tempat kerja.  

  1. Mengidentifikasi pengalamanmu. Kamu perlu berlatih untuk mengidentifikasi pengalaman dan perasaanmu, terutama ketika atasanmu memberikan sinyal-sinyal yang tidak konsisten. Kamu harus mengecek kembali hal apa yang wajar dan tidak wajar agar kamu dapat menilai perilaku atasanmu dengan objektif. Dengan mengidentifikasi pengalamanmu, otakmu dapat memproses dan mengambil jarak dari situasi yang tidak menyenangkan.  
  2. Merestrukturisasi pikiranmu. Salah satu fase dalam siklus trauma bonding adalah disonansi kognitif, yaitu ketika perlakuan atasanmu berkonflik dengan penilaian positif yang sudah kamu miliki mengenainya. Untuk itu, kamu perlu menyusun kembali pikiranmu, penilaianmu terhadap atasanmu, menyamakannya dengan realita.  
  3. Mencari dukungan sosial. Kamu perlu mencari koneksi lain yang lebih sehat sehingga kamu bisa menyadari hal-hal yang tidak sehat dalam hubunganmu dengan atasanmu.  
  4. Memasang batasan. Ketika kamu telah menyadari bahwa hubunganmu dengan atasanmu sudah tidak sehat, kamu perlu memasang batasan. Kerjakan hal yang sesuai dengan tanggung jawabmu, dengarkan komentar yang memang dapat membangunmu secara profesional, dan tinggalkan hal lain yang tidak signifikan. Termasuk dalam hal validasi, kamu tidak harus selalu mendapatkan validasi dari atasanmu.  
  5. Mencari bantuan profesional. Apabila kamu kesulitan untuk keluar dari siklus ini, kamu dapat menghubungi tenaga profesional, seperti konselor maupun psikolog. Ketika trauma bond yang kamu miliki sudah terlalu kuat, kamu mungkin kesulitan untuk lepas darinya begitu saja. Untuk itu, bantuan profesional dapat mendorongmu untuk secara perlahan keluar dari siklus tersebut.  

 Baca Juga: Workplace Counselor: Rekan Kerja yang Tepercaya untuk Jadi Tempat Curhat 

Dengan langkah-langkah awal ini, kamu dapat perlahan memutus trauma bond yang kamu miliki dengan atasanmu di tempat kerja. Perlu diingat bahwa proses ini tidak linear dan juga tidak mudah. Akan ada masa di mana kamu merasa kembali lagi ke dalam siklus trauma bonding maupun merasa “rindu” dengan validasi yang selalu kamu cari. Semua itu bukanlah kegagalan, melainkan bagian  dari proses pemulihan yang wajar. Yang terpenting, kamu terus bergerak maju secara perlahan. 

Kesimpulan 

Tempat kerja seharusnya menjadi ruang di mana kamu dapat tumbuh, berkembang, dan dihargai sebagai seorang profesional sekaligus sebagai manusia. Trauma bonding di tempat kerja merupakan tanda bahwa batasanmu sebagai profesional maupun  manusia telah dilanggar, dan juga bahwa kamu berhak atas sesuatu yang lebih baik.  

 Mencari validasi dari atasan adalah hal yang wajar. Akan tetapi, ketika pencarian itu berubah menjadi kewajiban dan semangat kerjamu diwarnai oleh kecemasan, hal itu sudah keluar dari konteks profesionalisme. Kondisi ini menandakan bahwa ada ikatan yang perlu kamu putus.  

Untuk itu, mulailah kenali dan waspadai trauma bonding di tempat kerjamu. Apabila kamu mengalaminya, segera ambil langkah awal untuk memutusnya dan jangan ragu untuk mencari bantuan dari pihak lainnya.   

LPTUI sebagai lembaga psikologi terapan telah menyediakan layanan konsultasi psikologi individual maupun organisasi. Kunjungi website LPTUI atau hubungi LPTUI melalui nomor WhatsApp LPTUI Salemba atau LPTUI Depok untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. 

 

Referensi: 

Anda bisa membagikan artikel berikut kepada yang lain:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0

Keranjang Kamu Kosong

Tidak ada produk di keranjang Anda.