Tidak Hanya Depresi, Kenali 5 Gangguan Mental yang Umum Dialami Dewasa Muda

Berbicara soal gangguan mental, banyak dari kita mungkin langsung teringat pada depresi. Wajar saja, mengingat depresi memang menjadi salah satu gangguan mental yang paling sering dibicarakan dan cukup umum terjadi pada usia dewasa muda. Menurut laporan World Health Organization (WHO), diperkirakan lebih dari 300 juta orang di dunia menderita depresi. Namun, tahukah Anda bahwa gangguan mental tidak hanya depresi?

Nyatanya, ada banyak jenis gangguan mental lain yang juga bisa dialami oleh dewasa muda, bahkan sering kali tidak disadari gejalanya sejak dini. Dalam artikel ini, kita akan mengenal lima jenis gangguan mental yang umum dialami dewasa muda, agar kita bisa lebih peka terhadap tanda-tandanya dan memahami pentingnya menjaga kesehatan mental secara menyeluruh.

1. Gangguan Kecemasan

Bukan sekadar rasa cemas biasa, gangguan kecemasan terjadi ketika rasa takut atau cemas muncul secara berlebihan, sulit dikendalikan, dan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi ini bisa membuat seseorang terus merasa tegang, sulit berkonsentrasi, atau selalu memikirkan hal-hal buruk yang belum tentu terjadi.

Beberapa bentuk gangguan kecemasan yang umum antara lain: (1) Panic attack atau serangan panik tiba-tiba yang bisa muncul tanpa pemicu jelas dan memuncak dalam hitungan menit; (2) Social anxiety disorder berupa rasa takut dan cemas berlebihan akan dinilai buruk oleh orang lain, misalnya saat berbicara di depan umum; (3) Generalized anxiety disorder (GAD) yang ditandai dengan kekhawatiran berlebihan terhadap berbagai hal dalam hidup seperti pekerjaan, masa depan, hingga hubungan dengan orang lain yang berlangsung terus-menerus; dan (4) Agoraphobia, yaitu kecemasan terhadap tempat atau situasi di mana sulit untuk melarikan diri atau mendapatkan bantuan, seperti di ruang tertutup atau saat sendirian di luar rumah.

2. Gangguan Bipolar

Perubahan suasana hati adalah hal yang wajar terjadi, terutama saat seseorang menghadapi tekanan atau peristiwa besar dalam hidup. Namun, ketika perubahan tersebut terjadi secara ekstrem, berlangsung lama, dan sampai mengganggu aktivitas atau hubungan kita dengan orang lain, bisa jadi ada gangguan mental yang lebih serius yang mendasarinya.

Dinamakan gangguan bipolar karena merupakan kondisi ketika seseorang mengalami perubahan suasana hati yang sangat drastis antara dua kutub: depresi dan mania. Pada fase depresi, seseorang dapat merasa sangat sedih, kehilangan energi, dan sulit menikmati hal-hal yang biasanya disukai. Sementara pada fase mania, suasana hati dan energi dapat melonjak secara berlebihan, rasa percaya diri meningkat tinggi, dan mengalami dorongan untuk bertindak impulsif. Kedua fase ini bisa terjadi bergantian atau muncul bersamaan. Gangguan bipolar sendiri memiliki beberapa jenis dengan pola gejala yang berbeda-beda, dan penanganannya sebaiknya dilakukan bersama profesional kesehatan mental agar lebih tepat sesuai kebutuhan masing-masing individu.

3. Obsessive-Compulsive Disorder (OCD)

Istilah Obsessive-Compulsive Disorder atau OCD kerap digunakan sebagai candaan untuk menggambarkan seseorang yang terlalu rapi atau teratur. Namun, gangguan mental ini merupakan kondisi yang jauh lebih serius dan tidak sekadar tentang kebiasaan menjaga keteraturan secara berlebihan.

OCD terdiri dari dua komponen utama, yaitu obsesi dan kompulsi. Obsesi dapat berupa pikiran atau dorongan yang muncul berulang kali dan tidak diharapkan, sering kali disadari oleh penderitanya sebagai hal yang berlebihan, namun sulit untuk diabaikan. Sementara kompulsi adalah tindakan berulang yang dilakukan untuk meredakan kecemasan akibat obsesi tersebut. Misalnya, seseorang merasa harus terus-menerus mencuci tangan karena takut kuman, atau mengulang kalimat tertentu dalam pikiran agar merasa aman. Meski tindakan ini memberi kelegaan sesaat, dalam jangka panjang justru dapat menjadi kebiasaan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

4. Gangguan Makan

Gangguan makan bukan sekadar tentang pola makan atau keinginan menurunkan berat badan. Kondisi ini termasuk dalam kategori gangguan mental karena berkaitan erat dengan cara seseorang memandang tubuhnya, mengelola emosi, serta hubungan psikologis terhadap makanan. Secara umum, terdapat empat jenis gangguan makan yang paling sering ditemui. Pertama, anorexia nervosa di mana penderitanya melaparkan diri akibat ketakutan berlebihan akan kenaikan berat badan hingga membuat seseorang membatasi asupan secara ekstrem. Kedua, bulimia nervosa yang melibatkan siklus makan berlebihan yang diikuti perilaku seperti memuntahkan makanan, berpuasa ketat, atau berolahraga berlebihan untuk mengontrol berat badan.

Berbeda dengan kedua jenis gangguan makan sebelumnya, terdapat jenis gangguan yang tidak selalu berhubungan dengan citra tubuh. Binge eating disorder (BED) ditandai dengan kebiasaan makan dalam jumlah besar dan tidak dikontrol tanpa diikuti perasaan bersalah. Sedangkan avoidant/restrictive food intake disorder (ARFID) lebih berkaitan dengan perilaku menghindari makanan tertentu atau kesulitan makan akibat faktor sensorik seperti takut tersedak atau trauma terkait makanan. Keempatnya merupakan gangguan mental yang sama-sama memerlukan penanganan profesional karena dapat berdampak serius pada kesehatan fisik maupun mental jika dibiarkan tanpa bantuan.

5. Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)

PTSD adalah jenis gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis, seperti kekerasan, kecelakaan, bencana alam, atau kejadian yang mengancam keselamatan diri maupun orang lain. Tidak semua orang yang mengalami kejadian traumatis akan mengembangkan PTSD, tetapi bagi sebagian orang, dampaknya bisa menetap dan mengganggu kehidupan sehari-hari dalam jangka panjang.

Ciri khas PTSD adalah munculnya kembali ingatan atau sensasi seolah-olah peristiwa traumatis itu terjadi lagi. Gejalanya bisa berupa mimpi buruk berulang, kilas balik (flashback), atau perasaan cemas dan panik ketika menghadapi hal-hal yang mengingatkan pada trauma tersebut. Beberapa orang juga mengalami reaksi fisik seperti jantung berdebar, keringat dingin, atau sesak napas. Dalam jangka panjang, penderita PTSD dapat menjadi mudah terkejut, sulit tidur, atau berusaha menghindari tempat dan situasi yang mengingatkan pada kejadian traumatis. Dukungan psikologis dan terapi profesional sangat penting untuk membantu seseorang pulih dan kembali merasa aman dalam kehidupannya.

Sering kali, gangguan mental terlambat ditangani karena gejalanya tidak disadari sejak awal. Kalaupun disadari, banyak orang masih merasa malu atau enggan mencari bantuan profesional seperti psikolog akibat stigma yang masih melekat di masyarakat. Padahal, penanganan dini dapat mempercepat proses pemulihan dan mencegah kondisi menjadi lebih berat.

Gangguan mental bukanlah akhir dari segalanya. Dengan dukungan yang tepat, setiap orang memiliki peluang untuk kembali pulih. Jika Anda atau orang terdekat membutuhkan bantuan, LPTUI menyediakan layanan konseling bersama psikolog profesional yang berpengalaman di bidangnya. Hubungi kami melalui WhatsApp LPTUI Salemba atau LPTUI Depok untuk mendapatkan informasi selengkapnya seputar konseling daring maupun tatap muka yang sesuai dengan kebutuhan Anda.


Referensi:

Grande, I., Berk, M., Birmaher, B., & Vieta, E. (2016). Bipolar disorder. The Lancet, 387(10027), 1561-1572.

Hay, P. (2020). Current approach to eating disorders: a clinical update. Internal medicine journal, 50(1), 24-29.

Shalev, A., Liberzon, I., & Marmar, C. (2017). Post-traumatic stress disorder. New England journal of medicine, 376(25), 2459-2469.

Szuhany, K. L., & Simon, N. M. (2022). Anxiety disorders: a review. Jama, 328(24), 2431-2445.

Veale, D., & Roberts, A. (2014). Obsessive-compulsive disorder. Bmj, 348, g2183.

Anda bisa membagikan artikel berikut kepada yang lain:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0

Keranjang Kamu Kosong

Tidak ada produk di keranjang Anda.