
Perubahan merupakan hal yang tidak terhindarkan dalam dinamika persaingan global. Setiap organisasi, besar maupun kecil, terus ditantang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang terus bergerak, mulai dari perubahan teknologi, tuntutan pasar, hingga pergeseran budaya kerja. Tak jarang, organisasi juga secara sengaja mendorong perubahan dari dalam demi meningkatkan efektivitas dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Namun kenyataannya, tidak semua upaya perubahan berhasil. Banyak inisiatif perubahan yang kandas di tengah jalan bukan karena strateginya salah, melainkan karena faktor manusianya yang luput diperhatikan. Di sinilah model ADKAR hadir sebagai solusi. Dikembangkan oleh Prosci pada tahun 2001 setelah meneliti lebih dari 700 perusahaan yang menjalankan proyek perubahan berskala besar, ADKAR menawarkan kerangka sederhana namun terbukti efektif untuk memandu perubahan secara terstruktur dengan menempatkan individu sebagai pusat perubahan. Keberhasilan organisasi pada akhirnya ditentukan oleh sejauh mana setiap individu mampu melalui tahapan perubahan.
ADKAR merupakan akronim dari lima tahapan yang harus dilalui seseorang agar perubahan benar-benar terjadi: Awareness (kesadaran) akan kebutuhan untuk berubah, Desire (keinginan) untuk mendukung perubahan, Knowledge (pengetahuan) tentang cara untuk berubah, Ability (kemampuan) untuk mendemonstrasikan keterampilan dan perilaku baru yang dibutuhkan untuk perubahan, dan Reinforcement (penguatan) untuk mempertahankan perubahan. Penjelasan selengkapnya adalah sebagai berikut:
-
Awareness: Membangun Kesadaran
Tahap awareness berfokus pada membangun pemahaman awal tentang perubahan yang akan terjadi. Pada tahap ini, organisasi perlu memastikan bahwa karyawan mengetahui apa yang akan berubah, mengapa perubahan tersebut diperlukan, dan bagaimana dampaknya terhadap pekerjaan mereka. Tanpa kesadaran, karyawan cenderung menolak atau mengabaikan perubahan karena merasa tidak memiliki konteks yang cukup.
Untuk membangun awareness, tim HR dapat menyampaikan rencana perubahan tersebut secara terbuka melalui berbagai kanal komunikasi, seperti town hall, sesi sharing, atau internal briefing. Penting untuk memastikan bahwa seluruh karyawan memiliki akses yang sama terhadap informasi, misalnya dengan menyediakan beberapa sesi atau format komunikasi yang berbeda. Pendekatan yang konsisten dan transparan akan membantu karyawan memahami alasan di balik perubahan dan lebih siap untuk menerimanya. -
Desire: Memantik Keinginan
Setelah karyawan memahami adanya perubahan, tahap berikutnya adalah membangun keinginan untuk terlibat dan mendukung perubahan tersebut. Desire berkaitan dengan motivasi internal, yaitu apakah karyawan merasa perubahan ini penting dan relevan bagi mereka. Tanpa adanya keinginan, perubahan hanya akan dianggap sebagai konsep abstrak, tetapi tidak benar-benar dijalankan dalam praktik sehari-hari.
Untuk memantik desire, HR dan manajemen perlu membangun pendekatan dan melibatkan karyawan secara aktif. Salah satunya dengan membuka ruang dialog untuk mendengarkan kekhawatiran, pertanyaan, atau masukan dari karyawan. Selain itu, penting untuk mengkomunikasikan manfaat perubahan secara jelas dan konkret, terutama bagaimana perubahan tersebut dapat berdampak positif pada pekerjaan mereka. -
Knowledge: Membekali Pengetahuan
Memahami alasan perubahan saja belum cukup jika karyawan belum tahu bagaimana cara menjalankannya. Pada tahap ini, organisasi perlu memastikan bahwa karyawan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk beradaptasi dengan cara kerja baru. Hal ini mencakup pemahaman terhadap proses, sistem, maupun peran yang mungkin berubah sebagai bagian dari implementasi perubahan.
Agar hal tersebut tercapai, HR dapat merancang program pembelajaran yang terstruktur dan mudah diakses. Pelatihan dapat dilakukan secara bertahap, dimulai dari dasar hingga penggunaan yang lebih lanjut sesuai kebutuhan pekerjaan. Selain itu, penting juga menyediakan materi pendukung seperti panduan atau dokumentasi yang bisa dipelajari secara mandiri. Dengan akses informasi yang jelas dan berkelanjutan, karyawan akan lebih siap untuk menerapkan perubahan dalam pekerjaan sehari-hari. -
Ability: Mengembangkan Kemampuan
Pada tahap ini, fokusnya bergeser dari memahami menjadi benar-benar mampu menjalankan perubahan dalam pekerjaan sehari-hari. Tidak semua karyawan yang sudah mengikuti pelatihan otomatis siap menerapkan hal baru, karena dibutuhkan waktu dan pengalaman untuk membangun kebiasaan kerja yang berbeda. Ability berkaitan dengan sejauh mana karyawan dapat mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki hingga mencapai standar kinerja yang diharapkan.
Untuk mendukung hal ini, peran atasan menjadi penting dalam memberikan arahan langsung dan membantu saat karyawan mulai menerapkan cara kerja baru. Selain itu, menyediakan akses ke ahli atau rekan yang lebih berpengalaman dapat membantu mempercepat proses adaptasi. HR juga dapat mendorong praktik langsung dalam pekerjaan serta memantau perkembangan secara bertahap, sehingga karyawan dapat terus meningkatkan kemampuannya secara terukur. -
Reinforcement: Memperkuat Perubahan
Perubahan sering kali tidak bertahan lama karena perhatian organisasi cepat berpindah ke inisiatif berikutnya setelah implementasi selesai. Pada tahap ini, fokusnya adalah memastikan bahwa perubahan yang sudah berjalan tetap dipertahankan dan menjadi bagian dari kebiasaan kerja. Reinforcement berkaitan dengan berbagai faktor yang membantu menjaga konsistensi perubahan, baik yang berasal dari luar seperti reward dan pengakuan, maupun dari dalam diri karyawan seperti rasa puas atas pencapaian yang diraih.
Agar perubahan dapat bertahan, organisasi perlu secara aktif memperkuat perilaku yang diharapkan. HR dapat mendorong hal ini melalui program apresiasi, pengakuan atas pencapaian, atau perayaan keberhasilan tim. Selain itu, penting untuk terus mengumpulkan umpan balik dari karyawan guna memahami tantangan yang masih dihadapi. Pengukuran kinerja dan evaluasi berkala juga diperlukan untuk memastikan bahwa perubahan benar-benar diterapkan secara konsisten dan memberikan hasil yang diharapkan.
Perubahan yang berhasil bukan hanya tentang implementasi awal, tetapi bagaimana organisasi mampu memastikan perubahan tersebut benar-benar dijalankan dan bertahan dalam jangka panjang. Dengan pendekatan yang tepat, setiap tahap dalam model ADKAR dapat membantu organisasi mengelola perubahan secara lebih terstruktur dan efektif. Jika organisasi Anda sedang menghadapi proses perubahan dan membutuhkan pendampingan yang tepat, layanan organizational development dari LPTUI siap membantu Anda dengan melibatkan para konsultan berpengalaman. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi website kami atau hubungi kami melalui WhatsApp untuk berdiskusi lebih lanjut bagaimana kami dapat mendukung organisasi Anda.
Referensi:
Paramitha, T. A., Tobing, D. K., & Suroso, I. (2020). ADKAR model to manage organizational change. International Journal of Research Science and Management, 7(1), 141-149.
Wong, Q., Lacombe, M., Keller, R., Joyce, T., & O’Malley, K. (2019). Leading change with ADKAR. Nursing management, 50(4), 28-35.
