Apa Itu Survivor’s Guilt? Kenali 3 Tanda Penting Rasa Bersalah Penyintas Musibah

Bayangkan seseorang selamat dari sebuah kecelakaan, sementara orang lain tidak. Di tengah rasa syukur karena masih hidup, bagi sebagian orang keselamatan justru diikuti oleh perasaan bersalah yang mendalam seolah hidup yang dijalani terasa “tidak pantas” untuk dimiliki. Pikiran seperti “Seharusnya bukan aku yang selamat… Bisa jadi seharusnya aku yang berada di posisi itu.” dapat datang berulang, bahkan ketika secara logis mereka tahu bahwa kejadian tersebut berada di luar kendali mereka. 

Pengalaman ini menggambarkan kondisi yang dikenal sebagai survivor’s guilt, yaitu rasa bersalah yang muncul setelah seseorang selamat dari peristiwa yang merugikan orang lain. Perasaan ini tidak selalu mudah dikenali, tetapi dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri setelah mengalami kejadian traumatis. Dalam artikel ini, kita akan membahas apa itu survivor’s guilt, mengapa hal ini bisa terjadi, serta pada tahap apa kondisi ini memerlukan bantuan profesional. 

Apa itu Survivor’s Guilt? 

Survivor’s guilt adalah perasaan bersalah yang muncul ketika seseorang selamat dari suatu peristiwa traumatis, sementara orang lain tidak. Rasa ini tidak selalu berkaitan dengan apa yang benar-benar dilakukan, tetapi juga bisa muncul dari hal-hal yang tidak dilakukan, dipikirkan, atau dirasakan saat kejadian berlangsung. Banyak penyintas merasa seolah-olah mereka memiliki tanggung jawab atas apa yang terjadi, atau mempertanyakan mengapa mereka yang selamat. Padahal, dalam banyak situasi, mereka tidak memiliki kendali atas jalannya peristiwa tersebut. Perasaan ini sering disertai dengan? penilaian negatif terhadap diri sendiri dan bisa menimbulkan beban emosional yang cukup berat. 

Kondisi ini paling sering ditemukan pada orang-orang yang pernah mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis, seperti kecelakaan, bencana, atau situasi dengan korban jiwa. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa survivor’s guilt tidak selalu terbatas pada situasi ekstrem. Perasaan serupa juga dapat muncul ketika seseorang merasa memiliki “nasib yang lebih baik” dibanding orang lain, misalnya dalam hal kesehatan, keberhasilan, atau kondisi hidup. Secara garis besar, survivor’s guilt menggambarkan perasaan tidak nyaman karena perbedaan nasib, yang kemudian diterjemahkan sebagai rasa bersalah terhadap diri sendiri. 

Mengapa Survivor’s Guilt Dapat Terjadi? 

Setelah mengalami peristiwa traumatis, pikiran membutuhkan waktu untuk mencerna dan menerima apa yang terjadi. Sering kali muncul dorongan untuk mencari penjelasan atas situasi yang terasa sulit dipahami, termasuk mengapa ada yang selamat dan ada yang tidak. Dalam proses ini, sebagian penyintas mulai mengarahkan pertanyaan tersebut ke diri sendiri. Muncul anggapan seolah-olah mereka seharusnya bisa melakukan sesuatu yang berbeda, atau bahwa hasil akhirnya tidak seharusnya seperti itu. Padahal, dalam banyak kasus, mereka tidak memiliki kendali atas jalannya peristiwa. Upaya untuk memahami kejadian ini justru dapat berujung pada munculnya rasa bersalah yang berulang. 

Di saat yang sama, survivor’s guilt juga berkaitan dengan cara seseorang memaknai hubungannya dengan orang lain. Ada kebutuhan untuk tetap terhubung, peduli, dan tidak merasa lebih beruntung dibanding mereka yang terdampak lebih berat. Ketika seseorang merasa berada di posisi yang lebih selamat, terutama jika melibatkan kedekatan emosional, hal ini dapat memunculkan ketegangan batin. Di satu sisi ada keinginan untuk melanjutkan hidup, di sisi lain muncul perasaan tidak nyaman untuk merasa baik-baik saja. Rasa bersalah kemudian hadir sebagai respons atas ketimpangan tersebut, dan dalam beberapa kasus dapat membuat seseorang terus menyalahkan diri atau merasa tidak pantas untuk benar-benar pulih. 

Bagaimana Ciri-ciri Survivor’s Guilt? 

Survivor’s guilt tidak selalu terlihat secara langsung, tetapi lebih sering muncul dalam bentuk cara seseorang memandang dirinya dan peristiwa yang dialami. Berikut beberapa pola yang umumnya muncul pada penyintas. 

  • Rasa Bersalah, Survivor’s Guilt karena ‘Hidup’ 

Salah satu ciri yang paling menonjol adalah rasa bersalah yang muncul semata karena diri sendiri tetap hidup. Perasaan ini hadir tanpa harus ada kesalahan atau keputusan yang keliru. Penyintas dapat memandang keselamatannya sebagai sesuatu yang tidak adil, terutama ketika orang lain tidak memiliki kesempatan yang sama. Akibatnya, muncul perasaan tidak pantas untuk merasa tenang, menikmati hidup, atau melanjutkan hari seperti biasa. 

  • Survivor’s Guilt Terus Menerus Mencari Jawaban atas “Mengapa Saya Selamat?” 

Banyak penyintas terjebak dalam upaya memahami kejadian yang dialami. Pertanyaan tentang alasan di balik keselamatan diri sendiri muncul berulang dan sulit dihentikan. Meskipun sudah berusaha mencari penjelasan, jawaban yang ditemukan sering kali tidak terasa memadai. Dalam proses ini, keyakinan atau cara pandang yang sebelumnya dipegang bisa terasa tidak lagi mampu menjelaskan pengalaman yang terjadi. 

  • Dorongan untuk Menebus atau Memperbaiki Keadaan 

Perasaan bersalah sering diikuti oleh dorongan untuk melakukan sesuatu sebagai bentuk penebusan. Penyintas mungkin merasa perlu menjalani hidup dengan cara tertentu agar keselamatannya terasa lebih layak atau mencoba memberi makna atas apa yang telah terjadi. Namun, tidak jarang muncul perasaan bahwa upaya tersebut tidak pernah cukup untuk mengimbangi kehilangan yang terjadi, sehingga memicu frustrasi dan membuat rasa bersalah semakin sulit dilepaskan. 

Apakah Penyintas yang Mengalami Survivor’s Guilt Memerlukan Bantuan Profesional? 

Perasaan bersalah setelah selamat dari suatu peristiwa memang bisa muncul sebagai bagian dari proses emosional. Namun, ketika perasaan tersebut bertahan dalam waktu lama, terasa semakin berat, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi ini perlu mendapatkan perhatian serius. Misalnya, ketika seorang penyintas terus-menerus menyalahkan diri, sulit tidur, menarik diri dari lingkungan, atau tidak lagi dapat menikmati hal-hal yang sebelumnya terasa biasa. Dalam situasi seperti ini, konseling dengan tenaga profesional seperti psikolog dapat membantu memproses pengalaman tersebut dengan lebih aman dan terarah. Psikolog dapat membantu memahami sumber rasa bersalah dan perlahan membangun cara pandang yang lebih sehat terhadap peristiwa yang dialami.  

Jika Anda atau orang terdekat sedang mengalami hal serupa, mempertimbangkan sesi konseling dengan psikolog bisa menjadi langkah awal untuk pulih. LPTUI menyediakan layanan konseling tatap muka di Jakarta dan Depok maupun secara luring yang dapat diakses dari mana saja. Lengkapi form pendaftaran untuk mendapatkan jadwal konsultasi Anda atau hubungi kami melalui WhatsApp untuk mendapatkan informasi selengkapnya.  

Referensi: 

Fimiani, R., Gazzillo, F., Dazzi, N., & Bush, M. (2022, July). Survivor guilt: Theoretical, empirical, and clinical features. In International forum of psychoanalysis (Vol. 31, No. 3, pp. 176-190). Routledge. 

Murray, H., Pethania, Y., & Medin, E. (2021). Survivor guilt: a cognitive approach. The Cognitive Behaviour Therapist, 14, e28. 

Pethania, Y., Murray, H., & Brown, D. (2018). Living a life that should not be lived: a qualitative analysis of the experience of survivor guilt. Journal of Traumatic Stress Disorders and Treatment, 7(1). 

Anda bisa membagikan artikel berikut kepada yang lain:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0

Keranjang Kamu Kosong

✖

Tidak ada produk di keranjang Anda.