Pernahkah Anda sedang berselisih dengan seseorang, baik itu pasangan, teman, maupun kolega, hingga Anda memutuskan untuk mengabaikan mereka? Atau, justru Anda pernah diabaikan oleh mereka?
Dalam hubungan, berselisih paham itu wajar terjadi. Tapi, bagaimana cara kita merespons perselisihan itulah yang perlu diperhatikan. Beberapa orang senang untuk berdiskusi secara terbuka dan menyelesaikan permasalahan dengan kepala dingin. Sayangnya, beberapa orang lain lebih nyaman untuk pergi dari kejadian dan mengabaikan lawan bicaranya.
“Tapi, aku hanya sedang butuh ruang untuk diriku sendiri. Aku tidak mengabaikan mereka.”
Benarkah? Apakah Anda membutuhkan ruang, atau Anda secara tidak sadar memberikan silent treatment.
Artikel ini akan membahas mengenai fenomena silent treatment, perbedaan silent treatment yang adaptif dan maladaptif, hingga dampak negatif silent treatment terhadap individu maupun kualitas hubungan. Simak artikel ini sampai akhir ya!
Apa itu Silent Treatment?
Silent treatment dapat dipahami sebagai perilaku di mana seseorang mengabaikan orang lain dengan menghindari kontak mata dan komunikasi. Silent treatment biasanya digunakan juga untuk mengucilkan orang lain dalam konteks sosial (Agarwal & Prakash, 2022; Tarafdar, 2025).
Banyak orang berpendapat bahwa aksi silent treatment ini mereka lakukan untuk memberikan hukuman kepada orang lain. Mereka beranggapan bahwa apabila mereka mengabaikan orang lain atas perilaku negatifnya, orang tersebut akan belajar untuk mengurangi perilaku tersebut (Agarwal & Prakash, 2022). Fenomena ini biasanya dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya ketika anak tidak mematuhi mereka.
Biasanya, orang yang menggunakan silent treatment bersikap defensif dengan menyatakan aksi pengabaiannya sebagai bentuk menghindari rasa sakit hati maupun mencegah diri dari mengatakan hal-hal yang menyakitkan.
Tapi, apakah benar demikian?
Silent Treatment Adaptif vs Maladaptif
Silent treatment memang tidak selalu negatif. Kadang kala, silent treatment dapat digunakan sebagai bentuk timeout untuk mengulur waktu dalam konflik. Ketika kita sedang berselisih secara intens dengan orang lain, kita bisa terbawa emosi sehingga kita perlu waktu untuk menenangkan diri. Aksi ini biasa dikenal juga sebagai constructive silence.
Secara ilmiah, constructive silence dinilai sebagai silent treatment yang adaptif. Ketika individu menggunakan aksi ini dalam perselisihan, mereka dapat menurunkan tingkat stres dan memberikan ruang bagi diri mereka untuk berpikir secara logis dan mencegah konflik yang berkepanjangan (Yulianto, 2025; Saidah et al., 2025).
Setelahnya, individu akan kembali lagi pada lawan bicaranya untuk memberikan pernyataan, bahkan resolusi, dari konflik yang ada. Mereka bisa menyelesaikan permasalahan bersama-sama dengan kepala dingin (Saidah et al., 2025).
Sayangnya, masih banyak orang yang berlindung dibalik dalih “membutuhkan ruang untuk diri sendiri”. Mereka mengaku bahwa mereka perlu waktu, padahal mereka hanya ingin kabur dari konflik dengan silent treatment. Saat itulah silent treatment menjadi maladaptif (Tarafdar, 2025).
Alih-alih menemukan titik terang, silent treatment maladaptif justru dapat membuat hubungan menjadi lebih runyam; menempatkan lawan bicara pada posisi yang tidak menyenangkan. Dalam kondisi tertentu, silent treatment seperti ini dapat memberikan dampak emosional yang besar bagi lawan bicara.
Dampak Negatif dari Silent Treatment
Ada banyak dampak negatif yang dapat muncul karena silent treatment. Biasanya, dampak terbesar akan dirasakan oleh lawan bicara yang mendapatkan silent treatment ini. Berikut adalah beberapa dampaknya:
- Kebingungan
Individu yang menjadi korban dari silent treatment dapat mengalami kebingungan secara emosional karena mereka akan berusaha menerka pikiran dan perasaan lawan bicaranya tanpa adanya komunikasi verbal.
- Kecemasan
Oleh karena individu harus terus menerka-nerka lawan bicaranya, hal tersebut dapat menimbulkan rasa cemas karena harus menilai setiap gerak-gerik yang diberikan oleh lawan bicaranya.
- Rasa rendah diri
Mendapatkan silent treatment juga dapat menumbuhkan ketidakberdayaan. Individu yang mendapatkan silent treatment mengembangkan keyakinan bahwa mereka pantas mendapatkan tindakan demikian sehingga akhirnya merasa rendah diri.
- Rusaknya hubungan
Tentunya, dinamika hubungan juga akan terdampak akibat silent treatment. Aksi ini dapat menghancurkan kepercayaan dan keamanan dalam hubungan, mencegah adanya percakapan yang konstruktif, dan menurunkan kualitas hubungan.
Oleh karena itu, tidak jarang silent treatment disebut juga sebagai manipulasi emosional, bahkan emotional abuse (Tarafdar, 2025). Memberikan silent treatment pada orang lain dapat menimbulkan luka emosional yang mendalam bagi individu tersebut.
Baca juga: Toxic Relationship: Pengertian, Ciri-ciri, dan Cara Mengatasinya
Memutus Siklus Silent Treatment
Apabila Anda cenderung memberikan silent treatment pada orang lain, Anda perlu melatih kemampuan regulasi emosi Anda. Silent treatment biasanya menjadi cara yang paling mudah untuk dilakukan karena Anda dapat keluar dari situasi begitu saja. Pilihan ini biasanya juga dipicu oleh intensitas emosi negatif yang Anda miliki ketika konflik terjadi. Oleh karena itu, regulasi emosi dapat membantu Anda mempertimbangkan kembali strategi resolusi konflik yang lebih adaptif (Drake, 2022).
Selain itu, apabila yang Anda butuhkan adalah waktu dan ruang, Anda juga perlu mengungkapkan kebutuhan Anda. Anda juga bisa menegosiasikan seberapa banyak waktu yang Anda butuhkan untuk pergi dari konflik. Setelah waktu yang ditetapkan, Anda harus kembali dan menyelesaikan permasalahan bersama-sama.
Baca juga: Cara Mempraktikkan Komunikasi Asertif: Kunci Berani Bicara Tanpa Drama Sebaliknya, jika Anda menjadi korban dalam situasi ini, Anda juga perlu meregulasikan emosi yang muncul. Dibandingkan mengkonfrontasi lawan bicara ataupun menilai diri Anda secara rendah, Anda perlu meyakinkan pada diri Anda bahwa pilihan mereka untuk mengabaikan Anda bukanlah tanggung jawab Anda.
Alih-alih, berikan batasan yang jelas. Dalam setiap hubungan, batasan adalah salah satu fondasi yang penting. Anda perlu menetapkan hal apa yang Anda toleransi dan hal apa yang tidak bisa Anda toleransi.
Dengan batasan ini, Anda bisa lebih yakin dalam menilai seberapa berharga hubungan yang Anda miliki. Jika melewati batas, Anda bisa dengan tegas menyelesaikan hubungan tersebut (Medcalf, 2025).
Diam Tidak Selamanya Emas
Silent treatment memang seringkali menjadi jalan pintas dalam menyelesaikan masalah. Aksi ini bisa menjadi baik ketika Anda menggunakannya untuk meregulasi diri. Namun apabila tujuan Anda adalah mengabaikan lawan bicara Anda, Anda perlu mempertimbangkan kembali dampaknya. Regulasi emosi, komunikasi asertif, keterbukaan, dan negosiasi adalah hal yang penting demi keberlangsungan hubungan yang sehat, baik dengan pasangan, teman, keluarga, maupun kolega.
Hal terpenting bagi Anda sebagai pemberi maupun penerima silent treatment adalah memastikan stabilitas mental Anda. Jangan ragu untuk mencari pertolongan profesional apabila hal ini berdampak kepada kondisi psikologis Anda.
LPTUI sebagai lembaga psikologi terapan telah menyediakan layanan konsultasi psikologi. Hubungi LPTUI melalui nomor WhatsApp LPTUI Salemba atau LPTUI Depok untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
Referensi:
- Agarwal, S., & Prakash, N. (2022). When silence speaks: Exploring reasons of silent treatment from perspective of source. International Journal of Trend in Scientific Research and Development, 6(3), 1458–1472.
- Drake, K. (2022, August 12). Silent communication: Effectiveness, importance, and tips. Psych Central. https://psychcentral.com/relationships/silent-communication
- Medcalf, A. (2025, October 20). What to do when someone gives you the silent treatment. Abby Medcalf. https://abbymedcalf.com/how-to-deal-with-the-silent-treatment/
- Saidah, M., Zaimudin, A. B., Rahmawati, I., Muslimah, F., Nurbaya, S., & Wardak, M. H. (2025). Silent treatment in conflict resolution: Communication and uncertainty management for sustainability. In M. D. H. Rahiem (Ed.), Towards resilient societies: The synergy of religion, education, health, science, and technology (pp. 102–107). CRC Press.
- Silence – the most powerful communication tool. (2025, June 2). Ana Šimunović. https://anasimunovic.com/en/silence-the-most-powerful-communication-tool/
- Tarafdar, S. (2025). Silent treatment as a form of emotional manipulation: Psychological impact and relational consequences. In D. M. D. Olea, D. S. Pattanaik, D. S. Chowdhury, D. P. Banerjee, & D. P. Pandey (Eds.), Psychology of emotional manipulation: Power, control, and resistance (pp. 95–103). Zykra Publications.
-
Yulianto, H. (2025). Silent treatment as a Hifzh al-Lisan-based coping strategy for sakinah family communication. Journal of Advanced Multidisciplinary Studies, 1(3), 216–238.
