Psychology of Money: Mengapa Cara Mengelola Keuangan Lebih Penting dari Besarnya Penghasilan?

Menurut buku Psychology of Money karya Morgan Housel, uang dan pengelolaannya lebih banyak terkait dengan perilaku ketimbang seberapa pintar kita atau seberapa banyak penghasilan yang kita miliki. Housel menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan dan usia tidak menentukan kemampuan seseorang dalam mengelola keuangan. Yang jauh lebih berpengaruh adalah bagaimana seseorang dapat membedakan kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) serta keputusan yang diambil terhadap keduanya.  

Seseorang yang hanya lulusan SD dapat menjadi seorang filantropi, begitu pula seseorang bergaji UMR yang berhasil mengumpulkan tabungan hingga ratusan juta rupiah. Bukan karena penghasilan besar, melainkan karena konsistensi dan kesabaran dalam menyisihkan uang dari waktu ke waktu. Dari hal tersebut, kita mempelajari bahwa kekayaan tidak dibangun secara instan, tetapi juga tumbuh melalui waktu dan kesabaran sebagai faktor yang paling menentukan. 

Bukan sebuah hal yang mustahil bagi seseorang untuk menjadi kaya dalam waktu singkat karena keberuntungan atau momentum yang tepat, tetapi peluangnya sangat kecil. Artikel ini akan berfokus pada sesuatu yang lebih bisa kita kendalikan: bagaimana cara mengelola uang yang sudah kita miliki dan bagaimana cara melatih diri untuk melakukannya secara konsisten seiring berjalannya waktu. 

Perbedaan Rich dan Wealthy 

Salah satu konsep paling penting dalam buku Psychology of Money adalah perbedaan antara rich dan wealthy. Keduanya mungkin terdengar sama, tetapi secara substansi sangat berbeda. Rich berkaitan dengan apa yang dapat kita lihat seperti rumah besar, mobil mewah, penghasilan tinggi, hingga gaya hidup yang tampak glamor di media sosial. Semua itu umumnya menjadi penanda untuk mengidentifikasi “orang kaya”. Namun, Housel mengingatkan bahwa semua itu hanyalah tampilan di permukaan. Wealthyatau kekayaan yang sesungguhnya, justru mengacu kepada apa yang tidak terlihat seperti berapa banyak dana yang ditabung, di mana seseorang berinvestasi, ataupun seberapa besar aset yang dimiliki tanpa diketahui oleh orang lain.  

Perbedaan ini menjadi nyata ketika kita melihat fenomena OKB atau orang kaya baru. Buku ini mencatat bahwa sebagian besar orang yang tiba-tiba mendapatkan uang banyak tidak mampu mempertahankan kekayaan itu dalam jangka panjang. Hanya sebagian kecil yang benar-benar dapat mempertahankan kekayaannya, sedangkan sisanya menghabiskan apa yang mereka dapatkan karena rich tanpa pengelolaan yang baik hanya bersifat sementara. 

Sebaliknya, orang-orang yang benar-benar wealthy sering kali justru tidak tampil mencolok. Pimpinan perusahaan besar banyak yang tidak memamerkan kekayaannya di sosial media. Mereka cenderung berpenampilan sederhana dan tidak sibuk menunjukkan apa yang mereka beli. Kekayaan mereka tersimpan dalam aset, investasi, dan tabungan yang tidak pernah dipublikasikan.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bagaimana rich adalah tentang penampilan, sedangkan wealthy adalah tentang keberlanjutan (sustainability). Keduanya dibedakan dari bagaimana seseorang mengelola keuangannya untuk jangka panjang.  

Mengelola Keuangan Dimulai dari Membedakan Kebutuhan dan Keinginan 

Banyak orang ingin menjadi milioner, tetapi secara tidak sadar justru menjauh dari tujuan itu dengan cara menghabiskan uang untuk membeli barang-barang mahal yang tidak terlalu mereka butuhkan. Padahal, ketika uang dikonversi menjadi barang, hal tersebut akan menyebabkan depresiasi atau penurunan nilai. Hal ini berbeda dengan investasi atau aset seperti emas dan properti yang cenderung naik, nilai barang kebanyakan justru susut sepanjang waktu. 

Di sinilah pentingnya memahami perbedaan antara wants dan needs. Contoh sederhananya adalah baju seharga Rp100.000 yang sedang diskon 30% menjadi Rp70.000. Jika kita memang sedang butuh baju karena stok menipis atau perlu memakai warna tertentu, maka membeli baju tersebut merupakan kebutuhan. Membeli adalah keputusan yang logis dengan mempertimbangkan hemat Rp30.000 karena diskon. Sebaliknya, jika lemari sudah penuh dan kita tetap membeli karena tergiur diskon, maka kita sebenarnya tidak hemat Rp30.000 dan justru boros Rp70.000. Perbedaannya terdengar sederhana, tapi dalam praktiknya sangat sulit diterapkan. Sistem ekonomi modern memang dirancang untuk mengaburkan batas antara kebutuhan dan keinginan. Hadirnya diskon, flash saledan notifikasi promosi mendorong kita untuk mengambil keputusan berdasarkan emosi yang impulsif, bukan logika.  

Hal yang sama berlaku pada kecenderungan manusia menginginkan reward yang instan. Ketika ingin membeli ponsel seharga Rp10 juta, ada dua pilihan: menggunakan pinjaman online dan langsung mendapatkan ponselnya hari ini, atau menabung terlebih dahulu sampai terkumpul lalu membeli. Sebagian besar orang memilih opsi pertama karena otak kita secara naluriah menyukai reward yang cepat dan menghindari sesuatu yang terasa seperti pengorbanan. Menabung terasa seperti punishment karena kebebasan kita untuk membelanjakan uang dibatasi. Sementara itu, pinjaman terasa seperti kebebasan karena kita langsung mendapatkan apa yang diinginkan. Padahal, yang terjadi adalah pinjaman menunda beban dan menabung menunda kepuasan untuk hasil yang jauh lebih baik. 

Bisakah Kita Mengubah Perilaku Finansial? 

Perilaku merupakan sesuatu yang sangat mungkin diubah, meski tidak mudah, termasuk perilaku finansial. Hal ini tercermin dari kebiasaan yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun. Mengubah perilaku finansial bukan hanya mengetahui apa yang benar untuk dilakukan, seperti misalnya kesadaran untuk menabung, tetapi pada tantangan bagaimana mengubah pengetahuan terhadap perilaku tersebut menjadi kebiasaan baru yang konsisten. 

Terdapat fondasi yang lebih mendasar, yaitu monitoringTanpa pencatatan keuangan yang rutin, kita tidak akan pernah tahu ke mana uang kita pergi. Banyak orang baru menyadari tabungannya menipis di akhir bulan karena pencatatan yang tidak rutin. Padahal, jika cash flow dicatat dan dianalisis secara berkala, kita dapat mendeteksi lebih awal pengeluaran yang perlu dikurangi.  

Selain itu, salah satu pendekatan yang cukup efektif adalah menggunakan sistem reward and punishment. Prinsipnya adalah ketika pengeluaran berhasil dijaga sesuai target, berikan apresiasi untuk diri sendiri. Begitu juga ketika pengeluaran melewati batas, terapkan konsekuensi yang nyata. Tidak perlu memberikan reward atau punishment dalam nilai yang besar. Yang membuat sistem ini bekerja adalah komitmen untuk benar-benar menjalankannya, bukan sekadar merencanakan. 

Dalam dunia keuangan, ada dua kekuatan yang selalu bekerja berlawanan: fear and greed, ketakutan dan ketamakan. Ketakutan untuk melihat kondisi keuangan yang sebenarnya, dan ketamakan yang mendorong kita terus membelanjakan uang tanpa batas. Kedua kekuatan ini harus dihadapi, bukan dihindari. Menunda untuk memulai monitoring berarti memberi diri sendiri izin untuk terus berperilaku sama. Semakin lama kita menunda perubahan, semakin besar kerusakan yang harus diperbaiki nantinya. 

Tips Mengelola Keuangan Bagi Pemula 

Terdapat beberapa tips mengelola keuangan mendasar dari perspektif psikologi, antara lain sebagai berikut: 

1. Ubah Persepsi Terhadap Manajemen Keuangan 

Hal paling mendasar yang penting diingat adalah bagaimana kita membuat diri kita senyaman mungkin dengan manajemen keuangan. Jangan jadikan hal tersebut sebagai beban yang menakutkan. Memang tidak selalu menyenangkan, tapi berikan batas toleransi tertentu yang bisa kita tahan dalam jangka panjang. Strategi mengelola keuangan yang baik tidak seharusnya menyiksa diri, tetapi membangun hubungan yang sehat dengan uang secara perlahan dan berkelanjutan. 

2. Sabar dengan Proses yang Panjang 

Perubahan dalam mengelola keuangan tidak perlu dilakukan secara drastis. Pendekatan yang lebih efektif adalah melakukan penyesuaian secara bertahap, dengan memberi ruang bagi diri sendiri untuk beradaptasi terhadap ketidaknyamanan yang muncul selama proses tersebut. Penetapan target yang realistis, alih-alih ambisi yang terlalu tinggi, akan membantu menjaga konsistensi dalam jangka panjang. Penting untuk memahami bahwa stabilitas dan pertumbuhan finansial merupakan hasil dari proses yang berlangsung dalam waktu yang panjang, bukan dari upaya instan. 

3. Latih Locus of Control Internal 

Locus of control adalah cara individu memandang sumber kendali atas peristiwa dalam hidupnya, baik dari dalam diri maupun faktor eksternal. Dalam mengelola keuangan, menguatkan locus of control internal berarti berfokus pada keputusan yang berada dalam kendali pribadi. Ketika target finansial tidak tercapai, alih-alih menyalahkan kondisi luar, pendekatan yang lebih produktif adalah merefleksikan pilihan yang diambil, termasuk pengeluaran yang sebenarnya dapat dihindari. Perspektif ini dapat membangun kesadaran dan tanggung jawab dalam membentuk perilaku finansial yang lebih sehat. 

Mengelola keuangan pada akhirnya bukan tentang seberapa besar penghasilan kita, melainkan tentang seberapa baik kita mengenal diri sendiri. Memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, melatih kesabaran, dan mengambil tanggung jawab atas setiap keputusan finansial adalah fondasi yang jauh lebih kuat dari strategi investasi manapun. Jika Anda ingin mendalami lebih jauh tentang psikologi di balik strategi mengelola keuangan, simak diskusi lengkapnya di podcast kami melalui tautan berikut:

Ditulis oleh: Khadijah Almuhdor

Referensi:

Housel, M. (2020). The psychology of money: Timeless lessons on wealth, greed, and happiness. Harriman House. 

Anda bisa membagikan artikel berikut kepada yang lain:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0

Keranjang Kamu Kosong

Tidak ada produk di keranjang Anda.