Setiap anak memiliki perjalanan tumbuh kembang yang unik. Selain memperhatikan pertumbuhan fisik, orang tua juga perlu memberi perhatian pada perkembangan psikologis anak, karena masa kanak-kanak merupakan periode penting dalam membentuk fondasi regulasi emosi, keterampilan sosial, rasa aman, hingga cara anak belajar memahami diri dan lingkungannya. Ketika terdapat tantangan dalam proses ini, mengenali tandanya sejak dini dapat membantu anak memperoleh dukungan yang tepat untuk tumbuh secara lebih optimal. 
Berkonsultasi dengan psikolog anak bukanlah hal yang tabu atau berarti anak “bermasalah”, melainkan salah satu bentuk dukungan yang dapat diberikan orang tua untuk memahami kebutuhan anak dengan lebih baik. Justru, menyadari adanya tanda-tanda tertentu dan mencari bantuan sedini mungkin dapat mencegah masalah berkembang lebih kompleks di kemudian hari. Dalam artikel ini, kita akan membahas setidaknya lima ciri anak yang mungkin membutuhkan pendampingan psikolog anak, serta tanda-tanda yang perlu orang tua perhatikan.
-
Anak Cenderung Bertindak Agresif
Perilaku agresif pada anak dapat terlihat lewat tindakan seperti memukul, menggigit, mendorong, melempar barang, atau mudah menyerang saat merasa frustrasi. Jika perilaku ini muncul berulang, intens, atau mulai mengganggu relasi anak di rumah maupun sekolah, hal ini patut menjadi perhatian. Penelitian menunjukkan agresi yang konsisten dapat menjadi tanda anak sedang kesulitan mengelola emosi atau menyampaikan kebutuhan dengan tepat.
Dalam kondisi seperti ini, psikolog anak dapat membantu memahami apa yang mendasari perilaku tersebut dan memberi pendampingan yang sesuai. Anak dapat dibantu belajar mengenali emosi, merespons frustrasi dengan lebih tepat, sementara orang tua juga mendapat strategi penanganan yang dapat diterapkan di rumah. Dengan dukungan yang tepat, anak berpeluang membangun regulasi emosi yang lebih baik dan berinteraksi lebih positif dengan lingkungannya.
-
Anak Sulit Mengelola Emosi dan Sering ‘Meledak’
Sebagian anak cenderung sangat mudah tersulut emosinya, misalnya kecewa sedikit langsung menangis hebat, rutinitas berubah sedikit memicu tantrum panjang, atau butuh waktu lama untuk kembali tenang setelah marah. Sesekali hal ini dapat terjadi, tetapi ketika ledakan emosi muncul hampir setiap hari, reaksi yang muncul terasa tidak sebanding dengan pemicunya, atau kadang muncul begitu saja, ini dapat menjadi sinyal anak sedang kewalahan menghadapi emosinya.
Berkonsultasi dengan psikolog anak dapat membantu memetakan apa yang membuat anak mudah “meledak”, sekaligus memberi ruang bagi anak untuk belajar mengekspresikan rasa kesal, kecewa, atau frustrasi dengan cara yang lebih sehat. Seiring proses pendampingan, banyak anak mulai lebih mampu menenangkan diri, lebih lentur menghadapi perubahan, dan tidak mudah terseret emosi saat menghadapi situasi yang menantang.
-
Anak Sulit Berpisah dari Orang Tua
Beberapa anak tampak sangat cemas ketika harus berpisah dari orang tua. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana anak menangis berlebihan saat ditinggal atau menolak pergi ke sekolah atau ke tempat lain yang dirasa asing. Pada kondisi yang lebih berat, anak dapat mengalami keluhan fisik seperti sakit perut dan pusing saat menghadapi situasi tersebut. Tak jarang terjadi situasi di mana anak akhirnya menolak pergi dan memilih tetap di rumah karena rasa takut yang begitu kuat.
Dalam situasi seperti ini, psikolog anak dapat membantu memahami sumber kecemasan yang dirasakan anak dan memberikan pendekatan yang sesuai. Pendampingan biasanya dimulai dari membantu anak merasa lebih aman, dilanjutkan dengan latihan bertahap untuk menghadapi perpisahan, serta dukungan bagi orang tua dalam merespons kecemasan anak sehari-hari. Perlahan anak dapat belajar menghadapi situasi perpisahan dari orang tua dengan lebih tenang dan membangun rasa percaya diri secara bertahap.
-
Anak Menunjukkan Kemunduran Tumbuh Kembang
Orang tua mungkin mulai menyadari perubahan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai tiba-tiba berkurang, misalnya kembali ngompol setelah berhasil toilet training. Perubahan ini tidak selalu terjadi secara drastis, kadang muncul perlahan atau terlihat naik-turun. Dalam beberapa kasus, kemunduran dapat dipengaruhi oleh faktor nonmedis seperti stres, perubahan lingkungan, atau tekanan emosional yang membuat anak kembali ke perilaku lama yang terasa lebih “aman” bagi mereka.
Di sini lah psikolog anak dapat membantu untuk melihat apakah perubahan tersebut berkaitan dengan faktor emosional, lingkungan, atau perlu ditindaklanjuti lebih lanjut secara medis. Pendampingan biasanya melibatkan pemetaan riwayat perkembangan anak, memahami pemicu yang mungkin terjadi, serta memberi strategi yang membantu anak kembali membangun keterampilan yang sempat menurun. Harapannya, penanganan ini dapat memperbesar peluang anak untuk kembali berkembang secara bertahap sesuai kebutuhannya.
-
Anak Sulit Lepas dari Gadget
Sebagian orang tua merasa sudah mencoba berbagai cara untuk membatasi screen time anak, mulai dari mengingatkan hingga membuat larangan. Namun meski demikian, anak dapat terus-menerus meminta gadget, bahkan tantrum saat diminta berhenti. Jika berlangsung terus-menerus, pola ini dapat mengurangi waktu bermain aktif dan memengaruhi perkembangan emosional maupun kemampuan belajar anak.
Dalam situasi seperti ini, psikolog anak dapat membantu melihat apakah penggunaan gadget sudah mulai memengaruhi keseharian anak dan bagaimana pola yang terbentuk di rumah. Pendampingan biasanya tidak hanya berfokus pada anak, tetapi juga pada rutinitas dan interaksi dalam keluarga, misalnya membantu membangun kebiasaan yang lebih seimbang, memperkuat keterlibatan orang tua, atau menemukan alternatif aktivitas yang sesuai dengan usia anak. Dengan pendekatan yang tepat, anak dapat kembali lebih terlibat dengan lingkungan dan aktivitas tanpa layar gadget secara bertahap.
Lima contoh di atas hanyalah sebagian dari berbagai bentuk yang mungkin muncul dalam keseharian anak. Karena itu, penting bagi orang tua untuk mulai lebih peka dan proaktif memperhatikan perubahan perilaku, emosi, maupun interaksi sosial anak. Dukungan sejak dini dapat membantu anak melewati tantangan dengan lebih baik, sementara keterlambatan penanganan sering membuat pola yang sudah terbentuk menjadi lebih sulit diubah di kemudian hari.
Jika Anda, anak, atau orang terdekat Anda menunjukkan tanda-tanda yang membutuhkan penanganan profesional, LPTUI menyediakan kami menyediakan layanan konseling psikolog anak di Jakarta yang siap membantu memahami kebutuhan anak secara menyeluruh dan memberikan pendampingan yang tepat. Untuk informasi lebih lanjut atau membuat janji konseling, silakan hubungi kami melalui WhatsApp atau isi form pendaftaran untuk mendapatkan jadwal konsultasi Anda hari ini.
Referensi:
Ardiyani, I. D., Setiawati, Y., & Hsieh, Y. T. (2021). Education for parents of children with gadget addiction. Jurnal Berkala Epidemiologi, 9(3), 221-230.
Figueroa, A., Soutullo, C., Ono, Y., & Saito, K. (2012). Separation anxiety. IACAPAP e-textbook of child and adolescent mental health. Geneva: International Association for Child and Adolescent Psychiatry and Allied Professions.
Holland, J., & Brown, R. (2017). Developmental regression: assessment and investigation. Paediatrics and Child Health, 27(6), 253-259.
Wakschlag, L. S., Choi, S. W., Carter, A. S., Hullsiek, H., Burns, J., McCarthy, K., … & Briggs‐Gowan, M. J. (2012). Defining the developmental parameters of temper loss in early childhood: implications for developmental psychopathology. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 53(11), 1099-1108.
